Terlepas dari isu politisnya, tapi memang lebih baik kita belajar lagi untuk mem 'iqro' sesuatu. kata cak nun "“Jadi ojo mong mambu entute ngertio sopo sik ngentut tenane, kenopo ngentut , kenopo kok ngentute saiki ora sesuk
(Jadi jangan hanya mencium bau kentutnya, tetapi harus tahu siapa yang
kentut, kenapa kentut, kenapa kentutnya sekarang dan tidak besok)” {http://www.jpnn.com/read/2010/12/27/80510/Ada-Kepentingan-Bisnis-di-Balik-Polemik-soal-Jogja-}
"Aku adalah pengembara yang mencari hakikat. Manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat. Warga negara yang menginginkan agar umatnya mandapat kemuliaan, kemerdekaan, kestabilan, kehidupan yang baik dalam naungan Islam yang hanif. Aku adalah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia keberadaannya, kemudian berseru, “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintah, dan aku termasuk orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah) … “
“Inilah aku ! Lantas siapa kamu… ???”
(Imam Syahid Hasan Al Banna)